Perkembangan bisnis properti di Kota Bogor selama dua tahun terakhir berjalan dengan lambat, bahkan daya beli terutama di bidang rumah mengalami penurunan sampai 30 persen.
Ketua KADIN Kota Bogor, Erik Suganda

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bogor, Erik Suganda mengatakan, penurunan daya beli terutama di bidang penjualan rumah sedang, diakibatkan karena ekonomi global yang tidak stabil.

Selain daya beli, menurut Erik, di tahun 2019 mendatang diperkirakan daya beli masih belum normal karena kenaikan kurs dollar.
“Karena ekonomi global yang tidak stabil ditambah kenaikan kurs dollar sehingga berat untuk developer membangun rumah dan memang penjualan pun sedang tidak bagus,” kata Erik.
Meskipun saat ini di Kota Bogor ada sekitar 10 proyek pembangunan baik perumahan maupun apartement yang sedang dalam proses, untuk mengantisipasi semakin banyaknya penurunan daya beli bahkan kerugian yang bisa ditanggung oleh para pelaku bisnis properti, Kadin Kota Bogor mengimbau kepada para pengusaha terutama di bidang perumahan dan apartement untuk tidak membuka proyek baru sampai Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 selesai.
“Situasi politik bisa memengaruhi situasi ekonomi dan Bank Indonesia rate nya belum stabil. Jadi lebih baik untuk pengusaha menunda dahulu proyeknya sampai Pilpres selesai,” tegasnya.
Ketua HIPMI Kota Bogor, Zulfikar Priyatna
Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Bogor Zulfikar Priyatna menjelaskan, peluang bisnis pada tahun 2019 mendatang di Kota Bogor diprediksi akan mengalami kenaikan meski tidak signifikan. Kemacetan yang hampir merata di Kota Bogor khususnya pada hari libur, sebenarnya bisa menjadi salah satu indikator bahwa ekonomi daerah tengah bergerak.
Menurutnya, jumlah kunjungan wisatawan di Kota Bogor cukup tinggi. Hal ini tentunya akan memicu kenaikan beberapa sektor industri khususnya pariwisata. Hal sama juga terjadi pada sektor bisnis properti.
“Memang ada beberapa tantangan terkait kondisi ekonomi makro, khususnya terkait pelemahan nilai tukar rupiah dan turunnya daya beli masyarakat, sehingga spending sektor rumah maupun bisnis akan terpengaruh,” imbuhnya.
Di sisi lain, persaingan bisnis properti di tahun 2019 kemungkinan akan tetap berada pada kondisi middle competition atau menengah. Properti sebenarnya memiliki permintaan pasar (demand market) yang masih tinggi di Indonesia, kebutuhan hunian terus meningkat.
Namun dengan kondisi ekonomi pada kuartal terakhir, sambungnya, tentu akan membuat para pengusaha properti menunggu sambil melihat (wait and see), apalagi harga bahan baku bangunan kan mengalami kenaikan akibat fluktuasi nilai tukar.
“Tahun 2019 mendatang, sebenarnya pada beberapa sektor bisnis mengalami pertumbuhan, meski pada sektor lainnya mengalami stagnan atau malah menurun. Khusus di Bogor, saya melihat ada peluang besar tumbuhnya sektor pariwisata dan bisnis terkait yang menunjang pariwisata tersebut. Tetapi yang penting pengusaha jeli menangkap peluang, serta tetap bertindak efisien dan efektif,” ujarnya.
Kendati demikian, memang ada beberapa kendala, tetapi sejauh ini pemerintah daerah cukup responsif untuk mendukung iklim usaha yang kondusif di Kota Bogor. Memang ada sedikit kekurangan di sana sini, tetapi hal tersebut dibarengi dengan upaya dan komitmen juga dari pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan.
“Selebihnya kendala masalah penurunan daya beli masyarakat khususnya kelompok segmen B (menengah), C (bawah) dan D (mikro). Tapi hal ini bisa disiasati oleh pengusaha, untuk kelompok segmen konsumen A (ekonomi) atau premium, tidak begitu terpengaruh. Spending nya tetap stabil,” katanya.
Zulfikar menambahkan, bisnis itu kaitannya dengan banyak hal, aspek internal maupun eksternal. Di tahun politik ini, memang baiknya pengusaha properti harus tahan dulu, sabar sampai pilpres berakhir, dan bisa sambil pantau pasca Pilpres nanti, trennya seperti apa ? Kalau positif bisa dorong investasi.
“Tidak seperti di negara – negara maju yang sudah kuat dan stabil sistem politiknya. Sedangkan di Indonesia, gejolak politik ini bisa memengaruhi gejolak ekonomi juga, baik secara positif maupun negatif,” tutupnya.
Reporter:
Muhamad Taufik Hidayat
Fadil Novianto
Editor: Robby Firliandoko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here