Berawal dari melihat sebuah komunitas di media sosial yang menjual berbagai macam bros dari kawat tembaga, Nelita Fatma yang akrab dipanggil Ita mencoba berkarya untuk dijadikan sebuah usaha. Sejak 2012 Ita mulai merintis bisnisnya yang diberi nama AiTha Collection.

Wanita yang kini sudah berusia 40 tahun itu belajar secara otodidak dengan alat – alat perkakas seperti tang potong, pelurus, jepit dan tang bulat untuk membuat satu bros. Selain itu, Ita juga hanya meman¬faatkan video di berbagai kanal Youtube sebagai media belajar, karena untuk kursus pada saat itu masih terbilang mahal. Kemudian, Ita mulai belajar mengikat batu yang lebih rumit dan memutuskan untuk membuka bisnis bros atau kerajinan tangan.

Dengan modal hanya Rp 200.000 Ita memutar otak untuk memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Pertama kali pengusaha perempuan ini mendapat konsumen dari Papua yang memesan sebanyak enam lusin.

“Saya merasa sangat senang, karena baru memulai usaha sudah ada orang yang percaya dengan memesan hingga enam lusin. Dengan modal Rp200.000 akhirnya saya memberanikan diri meminta uang muka setengahnya, karena uang tersebut tidak cukup untuk membeli peralatan yang harganya lumayan mahal. Apalagi, saya juga menggunakan batu asli bukan imitasi,” ungkapnya.

AiTha Collection menjual berbagai macam bros seperti bros buket dan peniti dagu. Selain itu, Ita juga membuka jasa untuk mengikat batu untuk semua perhiasan seperti anting, kalung, gelang, cincin dan ring hijab. Tentunya dengan material kawat tembaga yang terdiri dari beberapa varian warna antara lain warna silver, emas dan warna tembaga bakar.

Untuk memasarkan karyanya Ita menggunakan Facebook, Instagram, bazar dan kepada teman-temannya. Produk yang diproduksinyapun sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Setiap hari Ita memproduksi bros sendiri dengan berbagai macam bentuk dan model.

”Untuk model, konsumen dapat memilih sendiri atau memilih yang sudah ready stock. Terkait harga, peniti dagu dibanderol Rp 5.000, bros buket biasa Rp 15.000, bros buket full batu Rp 35.000, tergantung dari ukuran batu, pola pembuatan dan tingkat kesulitannya,” tambahnya.

Hari demi hari terus berjalan, dan usaha Ita pun semakin meningkat. Namun, dikarenakan usahanya menggunakan tangan bukan mesin, jari tangan Ita mengalami rasa sakit seperti kaku sehingga harus diterapi dan fakum pada tahun 2017. Meski demikian, Ita harus kembali merintis usahanya karena sejak berpisah dengan suami, Ita terus berjuang dan tidak menyerah dalam menjalani kehidupannya. Bahkan Ia selalu berusaha menghidupi diri dan anak kesayangannya bernama Valief Oktafebrian yang berkebutuhan khusus.

 

REPORTER : MUHAMMAF TAUFIK HIDAYAT

EDITOR : ROBBY FIRLIANDOKO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here