Reporter: eLshaqi
Untuk yang ke empat kalinya, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bogor menggelar pameran foto jurnalistik bertema “Bogor Dalam Bingkai”. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pameran kali ini digelar di underpass Kebun Raya Bogor, atau tepatnya di depan Kampus IPB Baranangsiang, Jalan Padjajaran, Kota Bogor.
Pameran foto yang ditampilkan yakni foto-foto jurnalistik yang terjadi sepanjang tahun 2018. Sebanyak 56 foto dipamerkan, terdiri dari 47 foto single dan satu foto bercerita yang berisi sembilan foto. Foto yang ditampilkan dipilih dari berbagai tema seperti foto peristiwa, seni budaya, olahraga, ketokohan, lingkungan, human interest, dan masih banyak lagi.
Ketua PFI Bogor Tjahyadi Ermawan menyampaikan, bahwa pameran sudah menjadi agenda rutin setiap tahun. Dari tema yang diangkat masih sama yakni kilas balik Bogor yang terjadi di tahun 2018.
“Melalui pameran ini, kita ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang hal-hal apa saja yang terjadi di Bogor sepanjang tahun 2018. Tentunya pesan yang disampaikan lewat foto. Karena ini adalah foto jurnalistik,” terangnya. (23/2).
Pria yang akrab dipanggil Cay ini menambahkan, pameran berlangsung selama satu minggu sejak tanggal 23-28 Februari. Selama pameran juga akan diisi dengan hiburan musik dari Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Bogor.
Secara resmi, pameran foto dibuka langsung oleh Wali Kota Bogor Bima Arya didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bogor Shahlan Rasidi, dan Ketua Harian DK3B Arifin Himawan.
Dalam sambutannya, Bima Arya mengharapkan tiga hal yang ditangkap dalam memotret. Pertama, foto yang indah artinya foto-foto yang ditampilkan dapat menjadi duta bagi sudut-sudut yang indah di Bogor. Sudut yang cantik itu banyak, angle-angle untuk swafoto juga banyak di Bogor. Kedua, sebaliknya. Foto-foto yang sangat tidak indah juga boleh ditampilkan.
“Tidak apa-apa diekspose saja. Supaya para kepala dinas, para camat dan lurah itu tidak diam. Jadi, saya tidak khawatir teman-teman mengekspose foto sampah mmenumpuk, foto jalan yang lagi ramai, foto yang bolong. Karena saya selalu minta kepada para lurah dan camat, foto keadaan before and after yang sudah dilakukan. Tunjukin kepada saya. Kalau tidak bisa menunjukkan before dan after akan saya rotasi tidak usah menjadi lurah,” kata Bima.
Untuk yang keempat kalinya, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bogor kembali menggelar pameran foto jurnalistik bertema “Bogor Dalam Bingkai”. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pameran kali ini, digelar di underpass Kebun Raya Bogor, atau tepatnya di depan Kampus IPB Baranangsiang, Jalan Padjajaran, Kota Bogor.
Pameran foto yang ditampilkan yaitu foto-foto jurnalistik yang terjadi sepanjang tahun 2018. Foto yang dipamerkan sebanyak 56 foto. Terdiri dari 47 foto single dan satu foto story yang berisi sembilan foto. Foto yang ditampilkan dipilih dari berbagai tema seperti foto peristiwa, seni budaya, olahraga, ketokohan, lingkungan, human interest, dan masih banyak lagi.
Ketua PFI Bogor, Tjahyadi Ermawan menyampaikan, kegiatan pameran ini, sudah menjadi agenda rutin setiap tahun. Dari tema yang diangkat masih sama yakni kilas balik Bogor yang terjadi di tahun 2018.
“Melalui pameran ini, kita ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang hal-hal apa saja yang terjadi di Bogor sepanjang tahun 2018. Tentunya pesan yang disampaikan lewat foto. Karena ini adalah foto jurnalistik,” terangnya. (23/2).
Pria yang akrab dipanggil Cay ini menambahkan, pameran akan berlangsung selama satu minggu dimulai dari tanggal 23-28 Februari. Selama pameran juga akan diisi dengan hiburan musik dari Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Bogor.
Secara resmi, pameran foto dibuka langsung oleh Wali Kota Bogor, Bima Arya didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bogor, Shahlan Rasidi, dan Ketua Harian DK3B Arifin Himawan.
Dalam sambutannya, Bima Arya mengharapkan tiga hal yang ditangkap dalam memotret. Pertama, foto yang indah artinya foto-foto yang ditampilkan dapat menjadi duta bagi sudut-sudut yang indah di Bogor. Sudut yang cantik itu banyak, angle-angle untuk selfie juga banyak di Bogor ini. Kedua, sebaliknya. Foto-foto yang sangat tidak indah juga boleh ditampilkan.
“Tidak apa-apa diekspose saja. Supaya para kepala dinas, para camat dan lurah itu tidak diam. Jadi, saya tidak khawatir teman-teman mengekspose foto sampah mmenumpuk, foto jalan yang lagi ramai, foto yang bolong. Karena saya selalu minta kepada para lurah dan camat, foto keadaan before and after yang sudah dilakukan. Tunjukin kepada saya. Kalau tidak bisa menunjukkan before dan after akan saya rotasi tidak usah menjadi lurah,” kata Bima.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here