Reporter: Saeful Ramadhan

Editor: Robby Firliandoko

Visioner, Kreatif, Peduli dan Pekerja Keras

“Tidak melupakan sejarah itu penting. Tetapi membuat sejarah itu jauh lebih penting,”. Kalimat tersebut selalu diucapkan oleh Egi Gunadhi Wibhawa dalam banyak kesempatan untuk memotivasi generasi muda. Prinsip ini juga yang membuat Egi, sapaan akrabnya, selalu berupaya melakukan hal-hal besar serta bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Egi   lahir di Desa Parungpanjang, Kecamatan Parungpanjang pada 19 April 1981.  Ayahnya, Drs. Yusuf HM adalah seorang guru dan ibunya Hj. Upen Supenti berprofesi sebagai bidan.

Egi kecil sebenarnya hidup dalam kecukupan. Namun, ia lebih memilih keluar dari kemapanan. Sejak duduk dibangku SMPN 1 Parungpanjang, Egi sudah berusaha hidup mandiri. Gurunya, Hidayat atau kerap disapa Pak AA, dalam suatu kesempatan pernah berkata, “Egi sejak SMP sudah terlihat bakat usaha. Ia  mendagangkan, bekas alat suntik untuk mainan anak-anak seusianya,” kata Guru Hidayat.

Egi menggunakan keuntungan  dari berjualan barang tersebut sebagai tambahan saku dan sebagian ia gunakan untuk keperluan membeli buku-buku pelajaran. Sejak duduk di bangku SMP di SMPN 1 Parungpanjang, Egi  aktif mengikuti kegiatan organisasi praja muda karana (Pramuka).  Ia dipercaya menjadi ketua pengelola kedai Pramuka di sekolahnya. Menurut pak AA, selain pandai melihat peluang, Egi merupakan sosok pekerja keras. Bagi Egi, apa yang sudah direncanakan harus diperjuangkan sampai berhasil. Apapun yang menjadi kendala harus diatasi. Egi kuat memegang prinsip, tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Dengan karakter kepemimpinan seperti itu, di bawah kepemimpinannya, kedai pramuka sekolah berkembang pesat, menyediakan hampir semua kebutuhan peralatan kegiatan pramuka.

Egi juga membawa nama baik sekolahnya dengan dipercaya sebagai petugas pembaca do’a pada upacara kegiatan Jambore Nasional, di Komplek Perkemahan Pramuka, Cibubur.

Mendirikan Lembaga Kursus

Kepedulian  Egi  untuk membangun daerahnya sudah terlihat sejak ia masih duduk di bangku sekolah.  Pada tahun 1999,  saat masih kelas 3 SMA,  ia bersama tiga orang sahabat karibnya, Mochamad Nurjen, Syamsul Arifin dan Heni Hermawati mendirikan  lembaga pendidikan kursus komputer. Saat itu, teknologi informasi belum secanggih dewasa ini. Bahkan Kecamatan Parungpanjang  yang secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Tangerang bagaikan daerah terisolir, meski lokasinya dekat dengan BSD dan Ibukota Jakarta.

Empat sekawan ini berpandangan dengan sumber daya manusia yang menguasai teknologi komputer dan teknologi informasi dan komunikasi, percepatan pembangunan bisa dicapai. Karena alasan itu, empat sekawan ini kemudian mengajarkan teman-teman sebayanya berbagai aplikasi komputer.

Lembaga kursus kemudian berdiri meski dalam segala keterbatasan. Lembaga ini berisikan anak-anak muda yang semangatnya menggebu-gebu. Mereka sepakat memberikan nama lembaga pendidikan komputer (LPK)  dengan nama ”Perintis”.  Sepenggal kata yang mengandung makna kepeloporan, pejuang yang memulai, dan yang membuka jalan.  Sebuah nama yang mereka sadari akan memerlukan energi besar untuk mewujudkannya.

Persahabatan, idealisme dan semangat untuk hidup mandiri menjadi energi yang menggerakan aktivitas lembaga. Kesadaran inilah yang membuat mereka tak mudah patah dalam menghadapi aral rintang dunia usaha. Dengan potensi yang ada, mereka berbagi tugas, Egi sebagai pimpinan yang mengkoordinir semua kegiatan lembaga, Mochamad Nurjen menangani bagian promosi, Syamsul Arifin teknisi dan Heni Hermawati sebagai bendahara.

Ruang gerak mereka bukan hanya mendidik pemuda-pemuda desa, tetapi mereka merambah masuk ke pendidikan formal bekerja sama dengan sekolah dasar dan menengah di Parungpanjang,  Tenjo, Rumpin dan Gunung Sindur, bahkan menyebrang ke daerah Tetangga, seperti Legok, Curug, Cikupa Kabupaten Tangerang hingga Rangkasbitung Kabupaten Lebak Banten. Ribuan pelajar dan pemuda di perbatasan daerah tersebut pernah mengenyam pelatihan dan pendidikan di lembaga Perintis dan kini sebagian dari alumnnya ada yang berprofesi sebagai guru TIK dan  tutor lembaga kursus yang turut menyebarkan pengetahuan dalam menggunakan perangkat komputer.

Selain Perintis, Egi juga memplopori penyelenggaran pendidikan profesi 1 tahun, setara dengan program diploma satu. Berdirinya unit aktivitas baru ini diawali dengan program warung informasi dan teknologi (Warintek) yang diluncurkan kementrian Riset dan teknologi, Republik Indonesia. Egi dan rekannya mengajukan proposal agar program pemasyarakatan teknologi ini bisa berdiri di Parungpanjang.

Penawaran ini mendapat respon positif, Kementerian melirik Parungpanjang sebagai sasaran program pemasaran teknologi. Egi menjadi ketua Warintek Parungpanjang, kemudian dukungan kementrian ini ia manfaatkan untuk program akselerasi pembangunan Sumber Daya Manusia. Menurut Egi, percepatan pembangunan suatu daerah harus dimulai dengan membangun manusianya.

Warintek ini dikemas menjadi  program pendidikan profesi 1 Tahun dengan program pendidikan keahlian teknik komputer, akuntansi komputer, manajemen informatika dan desain produk industri. Egibersama rekan-rekannya kembali menunjukan kemampuan berdiplomasi. mereka berhasil, mengajak UNESCO, LIPI, Kemenkominfo, Ristek, Perpustakaan Nasional, Universitas Indonesia, Trisakti, Universitas Veteran Jakarta, Brainmatic dan sejumlah praktisi di bidang TI, mendukung pendidikan tersebut.

11 Sentra Ilmu Pengetahuan

Kerjasama dengan perpustakaan nasional ini berlanjut dengan program percepatan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Sebanyak 11 perpustakaan desa dibangun untuk mendukung program tersebut. Perpustakaan menyediakan begitu banyak literasi. Perpustakaan menjadi tempat masyarakat mencari referensi. Perpustakaan menjadi wadah pemberdayaan masyarakat. Dengan masyarakat berpengetahuan, pembangunan diharapkan dapat dilaksanakan dengan lebih baik.

Orang yang turut menemani Egi dan kawan-kawannya membangun sentra pengetahuan ini adalah Widiarto, alumnus Institut Teknologi Bandung yang menjadi dosen diberbagai Universitas ternama di Jakarta.  Widiarto juga banyak sumbang pikiran dan tenaga dalam, keberhasilan unit aktivitas Egi. Widiarto juga menjadi rujukan ketika perbedaan pendapat dari masing-masing, mengarah pada perpecahan. Egi sendiri menganggap, sosok ini sebagai orangtuanya sendiri. ”kami semua dibimbing oleh beliau,” kata Egi.

Namun sayang, orang yang sangat berjasa itu tidak berumur panjang. Widiarto meninggal dunia akibat kecelakaan kendaraan bermotor, di perbatasan Parunganjang-Legok Tangerang, usai menghadiri peresmian masjid dan Taman Baca Masyarakat milik Yessi Gusman, di Cisarua Bogor. Meski tidak lagi menemani, sosok ini banyak menginspirasi perjuangan Egi dan kawan-kawannya. Terutama soal nilai-nilai, semangat dan visi perjuangan.

Kiprah Egi dalam dunia perpustakaan juga mendapat penghargaan tertinggi. Ia dinobatkan sebagai pustawakan teladan RI oleh Kepala Perpustakaan Nasional. Perpustakaan yang dikelolanya juga menjadi yang terbaik di Kabupaten Bogor dan peringkat ke dua di Provinsi  Jawa Barat.

Gerakan perpustakaan ini juga telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Perhatian sejumlah kementrian dan lembaga peduli pendidikan masyarakat, telah membuka berbagai akses ke Parungpanjang dan wilayah sekitarnya. Parungpanjang  seiring waktu  berubah menjadi daerah yang memiliki daya saing, meski masih banyak yang harus diperjuangkan.

Atas kiprahnya, pada 2007, Egi dinobatkan sebagai pemuda Pelopor yang bergerak di sektor pendidikan non formal. Egi dianggap berjasa dalam pelaksanaan pendidikan luar sekolah di daerahnya.

Kini ia juga telah mendirikan sekolah menengah kejuruan (SMK) bidang teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu, pendidikan tinggi manajemenen informatika dan ilmu komputer, juga sedang dirintis. Egi juga menjadi pemimpin beberapa lembaga usaha yang mempekerjakan ratusan pemuda Parungpanjang.

Terjun Ke Dunia Politik

Tahun 2010, Egi mengambil keputusan untuk terjun ke dunia politik praktis. Ia terpilih menjadi ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan, Kecamatan Parungpanjang. Dari partai berlambang banteng itu, Egi maju sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Bogor masa bhakti 2014-2019, di daerah pemilihan V.  Ia terpilih dan duduk di komisi IV DPRD Kabupaten Bogor. Egi menjabat sebagai sekretaris komisi, ia juga menjadi sekretaris fraksi PDI Perjuangan di DPRD Kabupaten Bogor.

Egi mengaku, keputusannya terjun ke dunia politik  merupakan pilihan yang ia pilih secara masak. Menurut dia, melalui kursi parlemen ada banyak hal yang bisa dilakukan. Egi ingin memperjuangkan aspirasi masyarakat di dapilnya, yang merasa diperlakukan tidak adil dalam pembangunan daerah.

Sebagai politisi muda, nama Egi cukup diperhitungkan di Kabupaten Bogor. Pada perhelatan Pilkada Bupati Bogor 2018 lalu, namanya sempat digadang-gadang untuk menjadi calon Bupati Bogor bersama sejumlah tokoh politik yang jauh lebih senior dari dirinya. Namun, meski sempat mengikuti penjaringan bakal calon, Egi tidak lanjut ke pentas perembutan kursi orang nomor satu di Bumi Tegar Beriman.

Kini hampir genap lima tahun, Egi menjadi anggota DPRD Kabupaten Bogor. Kompetensi, keberanian, jaringan yang luas, serta konsistensinya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat, membuat PDI Perjuangan menempatkannya sebagai calon anggota DPR RI dari Dapil V Kabupaten Bogor. Egi berada diposisi nomor urut 7 untuk memperbutkan 10 kursi dari dapil tersebut. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here