Reporter: Robby Firliandoko
Perpaduan kata yang tersambung dalam Puisi dengan pemaknaan yang berbeda-beda selalu menjadi hal yang indah. Tidak hanya kata, Puisi mampu menjadi warna dalam berita dan makna dalam suara. Hal itu yang menjadikan tiga pemuda asal Cibinong, Nurhuda Anwar (Ace), Melly dan Ganang Ajie Putra untuk sepakat menyuarakan rasa melalui Puisi dengan membangin Ruang Suara Cibinong.
Komunitas yang memiliki anggota sebanyak 17 penyair ini aktif menyuarakan suara untuk membangun ruang melalui kata dalam Puisi. Ketua Ruang Suara Cibinong Ganang Aji Putra menjelaskan bahwa Ruang Suara Cibinong aktif menyelenggarakan pentas puisi setiap satu bulan sekali.
“Kami juga melakukan diskusi melalui grup whatsapp komunitas untuk membahas puisi dan saling mengoreksi sesama anggota untuk mendorong anggota agar dapat menerbitkan buku kumpulan puisinya sendiri,” kata Ganang.
Setelah rutin menggelar ruang dengan suara dan Puisi, pada tanggal 13 Januari lalu Ruang Suara Cibinong genap berusia satu tahun. Dalam perayaan ulang tahun pertamanya yang diselenggarakan pada 26 Januari lalu, Ruang Suara Cibinong mendapatkan kesempatan istimewa karena berhasil menghadirkan penulis ternama Indonesia yakni Seno Gumira Ajidarma dan Dwitasari.
“Tema pada diskusi sastra dengan Mas Seno Gumira yaitu Peran sastra dalam kritik sosial-budaya.
Hal menarik yg disampaikan oleh mas Seno adalah tentang bagaimana peran sastra pada masa orde baru.
Di mana pada masa itu, sastra memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tumbuhnya kesadaran masyarakat pada saat itu.
Mas Seno memberikan pesan kepada kami yaitu untuk mulai dan selesaikanlah tulisan kita, sebab orang bisa mati tapi tulisan tetap hidup selamanya,” tambahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here