Dulhadi (53), pria setengah baya berhasil mempertahankan kegigihannya membuat sepatu anak. Lebih dari 19 tahun suami dari Eti (50) menggeluti pembuatan alas kaki tersebut. Kini, dengan dibantu 12 orang pekerja, ia mampu memasarkan produknya ke berbagai wilayah termasuk pasar modern.
Warga Kampung Cilubang, Desa Sukadamai, Dramaga patut berbangga karena usaha yang dirintisnya dari nol kini mampu meraup rupiah hingga puluhan juta rupiah dari hasil pembuatan sepatu yang diberikan merek Dear yang berasal dari singkatan nama keluarga yakni Dulhadi, Eti, Andirani, dan Rifki serta merek  Rifkidz. Bahkan, Dulhadi kini merambah pangsa pasar digital melalui pemasaran secara daring menggunakan jasa media sosial untuk memenuhi permintaan produk sepatunya tersebut.
Bukan tanpa aral melintang, belasan tahun Dulhadi terus berupaya memperjuangkan usahanya. Bahkan ia sempat kebingungan ketika pesanan membludak namun modal awal yang tak kunjung ia miliki.
“Suka duka menjadi pengrajin sepatu kalau ada modal sedangkan dukanya sama tak ada uang tapi orderan banyak,” katanya
Tak tanggung tanggung, ia mampu melakukan pengiriman sepatu sebanyak 50 kodi atau 1.000 pasang sepatu. Dengan dibantu 12 orang pekerja, ia mampu menghasilkan 10 kodi per hari.
“Sistem penjualan ke toko besar biasanya jual putus. Harga ke toko berkisar Rp 33 ribu per pasang, untuk lokal Rp 25 ribu sedangkan jika sudah dijual di toko bisa mencapai Rp145 ribu per pasang, dalam waktu sebulan saya bisa dapat keuntungan 10 jutaan lah mas,” ucapnya.
Reporter : eLshaqy
Editor : Jenggo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here