Indonesia Emas, bukan lagi menjadi hal yang baru bahkan tabu untuk didiskusikan. Bahkan, bukan sekedar isu melainkan visi yang jauh ke depan namun terukur. Pada tahun 2045 mendatang, usia bumi pertiwi tepat berusia 100 tahun. Sesuai rencana dan harapan, negara yang dikaruniai sumber daya alam yang melimpah ini akan menjadi negara maju dengan perekonomian yang baik. Untuk itu, di edisi spesial Hari Remaja, Bogor In ingin mencoba menggali potensi dan visi remaja saat ini yang pada tahun 2045 mendatang akan menjadi pemangku kebijakan dan pastinya akan menentukan kondisi serta arah negara ini. Dari mulai budaya, teknologi komunikasi hingga prestasi-prestasi remaja masa kini yang memiliki perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Lahir di tengah kemajuan perkembangan teknologi komunikasi menyebabkan remaja saat ini sangat dekat dengan teknologi dan juga produk-produknya. Hal itu disadari oleh salah satu mahasiswi dari perguruan swasta Ratna Ladiana yang menggunakan berbagai macam media sosial seperti Instagram, facebook dan twitter. Ratna sendiri mengatakan bahwa dirinya bisa menggunakan media sosial mencapai kurang lebih 16 jam setiap harinya terhitung dari bangun tidur sampai tidur kembali.
Menurut Ratna, manfaat dari media sosial yang ia gunakan itu agar lebih mudah mengetahui tentang dunia luar dan mempermudah berhubungan dengan orang yang berbeda pulau maupun negara. Bukan hanya itu, media sosial juga dapat berjualan secara dalam jaringan (daring) dan menjajahkan produk yang dijual dengan mudah dan instan tanpa perlu menyewa lapak.
Namun, Ratna menyadari bahwa dampak negatif yang sering terjadi dalam media sosial adalah kurangnya privasi dirinya dan banyak orang yang tidak dikenal mengetahui kegiatan sehari-hari dan mengambil sebuah foto dari album yang diunggah tanpa ijin dan se-pengetahuan pemilik media sosial tersebut.
Bicara Indonesia Emas pada tahun 2045, Ratna ingin memulai dari hal-hal yang paling kecil seperti menggunakan produk dalam negeri. “Di tengah kondisi modernisasi sekarang ini kita bisa dengan mudah membeli produk luar negeri dengan cara membeli di online shop tanpa harus ke luar negeri. Kemudahan itulah yang kadang bikin terlena dan malah lebih sering beli produk luar, padahal saat ini perekonomian Indonesia sedang butuh dukungan agar bisa mengurangi kesenjangan-kesenjangan yang terjadi,” kata Ratna.
Perkembangan teknologi yang menyebabkan kita tahu akan dunia luar dan dunia tahu kita juga bisa memengaruhi kebudayaan bangsa Indonesia, khususnya pada remaja saat ini. Seperti halnya “Kpop” yang sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi ketika kita mendegarnya. Saat ini banyak sekali para remaja terutamanya adalah remaja wanita yang sangat menggemari musik dari negeri ginseng tersebut. Bahkan, video-video musik kpop kerap kali menjadi bahan perbincangan di media musik hingga youtube di Indonesia. Tidak jarang juga para penggemar Kpop di Indonesia membuat parodi lucu, unik dan menarik dari musik kpop tersebut.
Banyak alasan seseorang menyukai Kpop salah satu alasannya diungkap oleh Mahasiswi Unindra Afifah Azizah yang menyatakan suka Kpop karena banyak lagu dari Boyband dan Girlband Korea yang maknanya bagus. “Misalnya aja Boyband BTS di salah satu lagu dia yang judulnya Answer: Love myself itu lagunya punya makna yang bagus banget tentang kita sebagai manusia yang harus lebih percaya diri dan lagu itu jadi salah satu lagu penyemangat untuk saya,” kata remaja dari jurusan pendidikan sejarah itu.
Nyatanya, menyukai Kpop tidak hanya sebatas menyukai musiknya saja, melainkan juga membuat penggemar Kpop mengoleksi barang barang asal negeri ginseng tersebut. Afifah sendiri mengungkapkan bahwa ia gemar mengoleksi barang barang seperti album, masker, stiker, photocard, poster, gantungan kunci, gantungan hp, hingga hoodie dari boyband kesukaannya.
Menjadi seorang Kpopers sendiri memang tidak semudah yang dibayangkan, tidak sedikit orang menghujat dengan alasan Korea identik dengan operasi plastik sehingga sering kali dihujat dengan sebutan “plastik”, namun hal tersebut tidak menjadi hal yang harus dipermasalahkan bagi Afifah. Namun, ia menanggapi hujatan tersebut dengan santai.
Semua orang pasti memiliki hobi dan cita-cita sendiri. Afifah sendiri menjadikan kesukaannya pada Kpop hanya sebatas hobi. Dan ia memiliki cita-cita sendiri yang harus ia wujudkan kelak. Cita-citanya adalah menjadi seorang pendidik di bidang sejarah. Tanpa dipungkiri kesukaannya pada Kpop dan cita-citanya menjadi pendidik sejarah saling beriringan satu sama lain. Hal ini terjadi karena melalui kesukannya pada Korea Selatan ia menjadi sering sekali penasaran akan sejarah dari negeri ginseng tersebut yang kemudian menjadikan ia menyukai Kpop sambil mendalami sejarahnya.
Dua puluh enam tahun dari sekarang, tepatnya pada tahun 2045 saat Indonesia berusia 100 tahun, Afifah mengungkapkan bahwa ia akan mejadi seorang pendidik sejarah yang akan menyebarkan ilmu serta wawasannya kepada anak muridnya kelak.
Sementara itu, di lain sisi, budaya tradisional pencak silat atau yang biasa dikenal dengan silat merupakan suatu seni bela diri tradisional yang berasal dari Indonesia. Pencak Silat di zaman sekarang ini semakin sedikit peminatnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa bela diri dari negara lain seperti karate atau taekwondo lebih menarik bagi remaja pada zaman ini, namun hal tersebut tidak berlaku bagi remaja wanita asal Bogor bernama Neng Iin. Neng Iin atau biasa disapa dengan Neng tersebut sudah lima tahun bergelut di dunia pencak silat. Alasan sederhana diungkap Neng di balik kesukannya terhadap pencak silat yakni karena silat merupakan budaya asli negara Indonesia.
Selama lima tahun menggeluti dunia persilatan, Neng merasa bahwa pencak silat itu menyenangkan, mungkin bagi sebagian orang silat terlihat seperti seni bela diri ekstrem karena melakukan aksi seperti memecahkan genting menggunakan kepala, memecahkan bata menggunakan tangan, hingga mengupas kulit buah kelapa menggunakan gigi, namun hal tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri pencak silat di mata remaja yang menyukai makanan pedas itu.
Tidak jarang pencak silat dianggap sebelah mata karena terkesan seperti seni bela diri yang kuno. “Silat itu dipandang orang sebelah mata, katanya pake ilmu hitam lah, padahal itu semua kembali lagi ke keahlian masing-masing dari anggota silat,” tegas Neng.
Prinsip sederhana yang ditanam oleh Neng dalam melakukan seni bela diri pencak silat bahwa jika bukan kita generasi bangsa yang akan melestarikan budaya Indonesia, lantas siapa? Sekarang, Neng sendiri memiliki jabatan sebagai asisten pelatih silat di salah satu perkumpulan silat di Bogor. Berbagai prestasi telah diraih oleh Neng melalui pencak silat. Medali perunggu hingga medali emas sudah pernah diboyong oleh remaja wanita asal Kampung Cohak tersebut.
Neng mengungkapkan ketika nanti pada tahun 2045 saat Indonesia menjadi Indonesia Emas, ia akan tetap setia pada seni bela diri pencak silat. “Neng bakal tetep di silat dan akan terus membagikan ilmu kepada mereka yang ingin tahu lebih dalam soal silat dan terus meletarikan budaya Indonesia ini,” tutup Neng.
Remaja saat ini yang juga sering disebut Generasi Z memiliki banyak keberuntungan. Selain hidup di era kemajuan ilmu pengetahuan, Gen Z juga lahir dan hidup pada era perkembangan teknologi dan menjadikan mereka sangat dekat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti halnya Zahid Ahmad yang sudah bermain gim sejak kecil.
Baginya, jika tidak bermain gim hidupnya terasa datar-datar saja. Zahid memulai bermain gim dari mulai gim asal Negeri Sakura, Playstation.  Dalam sehari, Zahid dapat bermain 5 sampai 7 jam lamanya, ia biasa bermain gim di warnet, tetapi sejak kuliah ia bermain gim di rumah.
“Main gimnya tidak langsung 7 jam tanpa henti,  kadang 2 jam berhenti lalu nanti lanjut lagi,”  kata Zahid.
Banyak gim yang ia mainkan, tetapi menurutnya game yang paling berkesan adalah point blank. Tak tanggung tanggung ia juga pernah meraih kejuaraan nasional juara 1 PBGC regional Bogor, dan juara 3 PBNC 2016 & 2017 regional Bogor dan kejuaraan-kejuaran kecil di warnet.
Menurutnya, bermain gim mempunyai banyak dampak positif seperti menambah kosakata bahasa inggris, menambah teman, menambah wawasan internet, mengasah kemampuan otak, dan masih banyak lagi. Ada juga dampak negatifnya seperti menimbulkan rasa malas, karena jika sudah bermain gim akan fokus pada komputer dan tentunya menyita waktu, dan kurang istirahat jika bermain di malam hari bisa sampai tidur larut, kemudian menimbulkan kurangnya interaksi pada sekitar.
“Bermain gim harus tetap ingat waktu, bermain gim juga dapat menorehkan prestasi apabila bermain dengan tepat dan terus mengasah bakat”, ujar Zahid.
Gim memang bukan lagi sekadar permainan biasa,  sudah menjadi sesuatu yang memiliki nilai kompetitif. Banyak investor yang berinvestasi di dunia eSport. Kemajuan teknologi akan terus membuat gim menjadi sesuatu yang canggih apalagi pada tahun 2045. Teknologi Virtual Reality (VR) atu realitas maya yaitu teknologi yang memungkinkan pengguna seakan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan yang ada pada gim walau hanya di dalam komputer.  Konsep awal VR sudah ada sejak tahun 1960-an, lalu di tahun 2016 banyak perusahaan yang menggunakan teknologi VR ini.  Teknologi ini sangat memunginkan pemain gim seolah berada di dunia gim secara nyata,  mulai dari visual,  audio, bahkan sudah dengan sensasi. Seperti yang telah dibahas di Jepang apabila di dalam gim ada permainan air maka pemain gim akan merasa seperti basah, dan jika di dalam gim ada api maka pemain gim akan merasa panas.
Perkembangan gim pada tahun 2045 dengan teknologi VR akan semakin canggih dan terus berkembang. Sekarang dan masa yang akan datang gim dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Seperti Mmorpg, genre gim yang memunculkan interaksi sesama pemain tidak hanya pada menjalankan misi gim semata, tetapi memungkinkan pemain gim dapat bertemu di kota tertentu di dalam gim dan bahkan interaksi jual beli menggunakan uang virtual. Dapat dibayangkan di tahun 2045 uang virtual di dalam gim bisa ditukar nilainya pada dunia nyata, dapat menjadi model bisnis yang baru.
Zahid dan remaja Indonesia  khususnya pecinta gim akan turut serta dalam kemajuan gim hingga tahun 2045 mendatang. Dunia gim sangat luas dan pada masa mendatang gim menjadi sesuatu yang sangat menjanjikan. Tidak hanya menjadi penikmat kemajuan teknologi namun juga dapat menjadi ladang investasi.
Salah satu target pencapaian pada tahun 2045 adalah baiknya perkembangan ekonomi Indonesia. Untuk itu, saat ini pemerintah sedang menggenjot pertumbuhan dan perkembangan pengusaha muda. Contohnya saja Rivaldi Muslihat yang merupakan salah satu pengusaha muda di bidang jasa kreatif. Berawal dari kecintaannya terhadap dunia foto dan video, saat umur 23 tahun, dirinya sudah berhasil mendirikan startup bernama APABA Creative. APABA Creative sendiri adalah jasa promosi produk, tujuannya untuk menarik konsumen datang dan membeli.
Rivaldi meyakini bahwa usaha yang dijalaninya ini memberikan pengaruh kepada produk yang memakai jasanya. “Promosi yang dimaksud yaitu saya urus semua yang berhubungan produk seperti, desain, foto, video hingga akun sosial medianya saya urus selama 3 bulan,” ungkap Rivaldi.
Kesulitan yang dihadapi yaitu dirinya dituntut untuk selalu kreatif. Ia harus mempunyai ide-ide menarik dan inovasi baru agar setiap produk pengguna jasanya bisa diminati oleh banyak orang. Bisnis yang berdiri sejak tahun 2017 ini memiliki tarif harga paket promosi produk mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 7 juta dengan durasi selama 3 bulan.
“Saya selalu bersyukur karena masih banyak pelaku usaha yang masih percaya sama bisnis saya,” katanya.
Di 100 tahun Kemerdekaan Indonesia, tepatnya di tahun 2045 saat Indonesia mencanangkan program Indonesia Emas dengan kemampuannya yang didukung oleh teknologi. Pria yang hobi menciptakan sesuatu yang unik ini ingin menciptakan kacamata khusus untuk orang tunanetra secara gratis. Alasannya ingin membuat kacamata untuk tunanetra adalah karena almarhum ibunda dari Rivaldi menjadi seorang tunanetra sebab penyakit diabetes yang diterimanya mengakibatkan adanya gumpalan darah di bagian mata kemudian membuat fungsi dari kedua matanya mati. Dengan kemajuan teknologi yang akan datang  Rivaldi yakin pasti bisa membuatnya. “Harapan saya dari dulu, semoga bisa menciptakan kacamata khusus tunanetra agar bisa melihat kembali, dengan dibantu oleh teknologi yang semakin canggih, saya yakin pasti akan tercapai. Dan jika sudah tercapai semoga bisa membantu semua tunanetra di Indonesia,” tutup Rivaldi.
Reporter:
Dika Budiantoro
Nabila Permatasari
Farah ‘Arifah Rahmah
Sigit Aria Yudhatama
Editor: Robby Firliandoko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here