Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Setidaknya, kita dikenalkan dengan sebutan tersebut sejak kita mengenyam pendidikan di pendidikan tingkat dasar pada mata pelajaran sosial tingkat awal. Dikisahkan bahwa sejak zaman prasejarah nenek moyang bangsa ini menggantungkan perekonomian dari sektor pertanian, dan terus diwariskan hingga generasi kita saat ini. Namun, sebutan Indonesia sebagai negara agraris dewasa ini mulai dipertanyakan, seiring bergesernya aktivitas ekonomi bangsa ini.
Ketua Umum Himpunan Petani dan Peternak Milenial Indonesia (HPPMI) Aldi Supriyadi mengatakan, data yang BPS menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melaju pada angka 5.17 persen pada Triwulan III-2018 (dibandingkan Triwulan III-2017), tidak mencerminkan geliat pertumbuhan di sektor pertanian. Ditemukan bahwa pembagian Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggi di Indonesia adalah sektor industri, bukan pertanian.
Sektor industri memberikan sumbangan pada pertumbuhan ekonomi sampai 19,66 persen. Dibandingkan dengan sektor pertanian, ia justru berada pada posisi kedua dengan andil 13,53 persen.
Regenerasi di sektor pertanian juga masih menjadi salah satu masalah yang hingga saat ini belum menemukan solusi untuk mengatasinya. Data memperlihatkan bahwa jumlah petani setiap tahunnya selalu menurun sekitar 1,1 persen, tanpa ada penambahan yang signifikan di kelompok usia muda.
 “Data BPS dari hasil survei pertanian antarsensus 2018 menunjukkan hampir 70 persen petani adalah kelompok umur 45 tahun ke atas. Berkurangnya jumlah petani juga diikuti dengan luas lahan pertanian yang semakin menyusut setiap tahunnya karena alih fungsi,” kata Aldi.
Aldi menambahkan, perlu ada terobosan untuk mengatasi dua masalah ini. pertama, sektor pertanian harus menarik secara ekonomi dan yang kedua harus menjadi fashion atau bagian dari gaya hidup. “Anak muda harus merasa bangga berprofesi sebagai petani,” katanya.
Dalam rangka mewujudkan petani dan peternak yang mandiri, berdaya saing, serta mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi, HPPMI saat ini sedang mengembangkan berbagai budidaya dengan melibatkan banyak stakeholder, daei mulai pemodal, peneliti dan tentu saja para petani sebagai subjek utamanya. “Tahun ini kita akan mulai membuka lahan seluas 7 hektare untuk tanaman pisang, kencur dan berbagai tanaman holtikultura,” katanya.
Selain itu, budidaya jamur merang, bebek Peking juga sudah mulai dibuka untuk tahap percobaan di Daerah Ciawi Kabupaten Bogor. “Kami mencoba menerapkan teknologi kekinian dalam mengembangkan usaha tersebut,” katanya.
Teknologi, Tradisi, dan Kepemilikan Lahan
Sekretaris Jenderal HPPMI Saeful Ramadhan mengatakan, sektor pertanian harus mengadaptasi  kemajuan teknologi. Menurut dia, revolusi industri 4.0 yang ramai diseminarkan dewasa ini harus menaruh perhatian pada sektor pertanian, dari hulu hingga ke hilir. Bersamaan dengan itu, tradisi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat petani juga harus terus dipertahankan sambil digali makna filosofis yang terkandung di dalamnya.
“Jangan sampai euforia kita terhadap kemajuan teknologi justru menjauhkan diri kita dari jati diri kita sendiri,” katanya.
Saeful mengatakan, kearifan lokal masyarakat petani sangat kaya dan diwujudkan menjadi budaya di tengah kehidupan masayatakat. sebagai contoh, Masyarakat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, masih mempertahankan budaya ngarot yaitu simbol perlawanan terhadap industrialisasi yang menggeser budaya agraris. Ngarot selalu dilakukan bagi mereka yang belum menikah yaitu bujang dan gadis. Mereka diajarkan ilmu bercocok tanam semisal panen setahun dua kali. “Tentu saja tradisi seperti ini sangat baik, antara lain untuk regenerasi petani,” katanya.
Contoh lainnya, adalah upacara adat suku sunda  yaitu upacara adat Seren Taun. Seren Taun adalah upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan setiap tahun. Upacara ini berlangsung sangat ramai dan dihadiri ribuan masyarakat sekitar di berbagai desa di daerah Sunda. Tidak hanya dari daerah sekitar saja tapi masyarakat dari berbagai daerah dan wisatawan mancanegara datang untuk menyaksikan upacara adat tersebut. “Tradisi seperti ini melepas kejenuhan dan sekaligus menggairahkan kehidupan petani,” katanya.
Selain tradisi, yang perlu mendapat sorotan adalah kepemilikan lahan. Saat ini sangat sedikit petani yang bertanam dan budidaya hewan ternak di lahan milik sendiri. Mengutip data Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik [BPS], sebanyak 503.000 hektar sawah petani di Pulau Jawa telah beralih kepemilikan, sepanjang 2003-2013. Kondisi ini menyebabkan sawah berubah menjadi kawasan komersil, perumahan, atau proyek infrastruktur pemerintah.
Reporter: Rama
Editor: Robby Firliandoko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here