Tingginya permintaan Ikan Lele karena merupakan komoditas bahan pangan yang utama sebagai pengganti protein daging mendorong Moh Virdian Fajri membangun usaha Safari Aquality. Meski sempat terkendala oleh modal dan sulitnya mencari lahan, kegigihannya dalam budidaya Ikan Lele sejak tahun 2014 ini mulai berbuah manis.

Ditemui di kolam Lelenya yang memiliki luas lahan seluas 2.000 meter persegi di Jalan Raya Cifor, Virdi sapaan akrabnya bercerita bahwa keunggulan Safari Aquality adalah memproduksi Lele organik. Disebut Lele organik karena seluruh Lelenya makan pelet dan magot. “Keunggulan Lele organik adalah kalau dari rasa lebih gurih, lebih sehat dan ramah lingkungan,” kata Virdi.

Menggenai penggunaan magot sebagai pakan Lele adalah hal yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian untuk memberikan pakan alternatif yang aman karena untuk ketahanan pangan. Magot sendiri memiliki protein yang tinggi sehingga bisa menghasilkan bobot Lele lebih berat dan umur panennya lebih cepat dari normal. Biasanya, Lele panen dalam waktu 3 bulan, dengan Magot bisa lebih cepat lima hari.

Dengan total kolam yang berjumlah 40, Safari Aquality melakukan budidaya Ikan Lele dari pendederan sampai ke daging. Oleh karena itu Safari Aquality dapat panen seminggu dua kali, dan sekali panen seberat 5 kwintal.

“Rencana ke depan mau memperluas lahan karena ditantang memenuhi kebutuhan satu hari satu ton,” tambah Petani Pembudidaya Ikan Lele yang hobi main futsal dan ikan hias tersebut.

Selain itu, Safari Aquality juga membuat lele yang sudah dipotong dan terpisah dari duri serta tulang atau yang biasa disebut fillet guna memenuhi kebutuhan restoran.

Reporter: Robby Firliandoko
Editor: Saeful Ramadan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here