Sebagai asosiasi tenaga medis, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memiliki berbagai macam program dan kegiatan. Salah satunya menggelar pertemuan ilmiah Kapita Selekta yang diselenggarakan oleh IDI Kabupaten Bogor.
Kapita Selekta artinya semacam kamus besar yang dikemas menjadi suatu kegiatan ilmiah para dokter untuk mencari ilmu, belajar, mendengarkan ilmu terbaru, menggali dan memperkaya ilmu, mengasah keterampilan dan sekaligus sebagai ajang reuni atau silaturahmi dengan rekan sejawat lainnya.
Kapita Selekta yang merupakan kegiatan tahunan ke-empat kalinya ini dihadiri oleh peserta dari seluruh dokter umum yang ada di wilayah Kabupaten Bogor, bahkan ada juga dari luar daerah seperti Sukabumi, Indramayu, Tasikmalaya sampai dari Kalimantan.
Mendatangkan berbagai macam narasumber seperti ahli bedah plastik asal Surabaya, Prof. David, Pakar Bidang Hukum Kedokteran, Prof. Budi Sampurno, institusi pendidikan, BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan dan lain sebagainya, kegiatan berlangsung selama dua hari pada 14-15 September 2019 di IPB Internasional Convention Center (ICC) Botani Square, Kota Bogor.
“Kapita Selekta ini merupakan bagian dari tugas Ikatan Dokter Indonesia cabang Kabupaten Bogor untuk memperkaya atau memberikan keilmuan, menjadi bagian dari pendidikan berkelanjutan para dokter sehingga para dokter memiliki wadah untuk meningkatkan ilmu, kemampuan, keterampilan dalam menghadapi berbagai penyakit yang nantinya bekal ilmu dan keterampilan yang didapatkan di pertemuan ilmiah ini, bisa dipakai untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat,” ucap Ketua Pelaksana Kapita Selekta 4 Dr. Supriyadi Bektiwibowi, SpA.
Waka 1 Bidang Organisasi dan pembinaan anggota IDI Kabupaten Bogor ini menerangkan, tujuan akhir dari pertemuan ilmiah para dokter ini tidak lain untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan yang baik dan optimal. “Ke depan, Kapita Selekta IDI Kabupaten Bogor ini bisa dijadikan ajang ilmiah tahunan akbar yang gaungnya tidak hanya di ruang lingkup wilayah Kabupaten Bogor saja, melainkan bisa lebih luas seperti lingkup provinsi bahkan nasional termasuk bisa menjadi agenda provinsi dan nasional,” harapnya.
Di sisi lain, Ketua IDI Kabupaten Bogor Dr. Gioseffi Purnawarman, SpOG, MHKes., menekankan bahwa ada tiga hal yang menjadi perhatian khusus di zaman sekarang ini, di antaranya kepatuhan para dokter terhadap regulasi yang semakin hari semakin kompleks, era kompetisi karena semakin banyaknya dokter dokter termasuk fasilitasnya sehingga harus bersaing, ketiga terkait aspek bisnis sosial.
Menurut Dr. Gioseffi, ketiga unsur terkait itu yang memang harus diramu sehingga semua dokter bisa tetap berkelanjutan untuk bekerja, artinya secara bisnis bisa hidup, secara regulasi bisa patuh dan secara kompetisi bisa di depan dan bisa menguntungkan masyarakat serta tentu ada beberapa langkah langkah yang dimulai dari hal hal yang mendasar seperti improvisasi, kebaruan, menggali kemampuan dan pengetahuan dengan berbagai cara yang menarik dari mulai medis non medis, bedah non bedah dan lain sebagainya.
Menyinggung saat ini sedang memasuki era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan Universal Health Coverage (UHC) alias Jaminan Kesehatan Semesta, Dr. Geoseffi mengaku ada tantangan tersendiri dan banyak sekali menemui berbagai hal yang menurutnya banyak yang harus diperbaiki antara hubungan dalam pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) terkait dengan masalah pembiayaan, besaran ketepatan tarif, ketepatan pembayaran dan masalah mengenai sengketa administrasi dengan BPJS.
Kendati demikian, Dr. Geoseffi berharap teman teman sejawatnya tidak patah semangat dengan keadaan yang sekarang ini, tidak ada habisnya katakanlah berperang yang tidak tahu kapan selesainya. Harus tetap menolong masyarakat, tetap membantu negara agar masyarakat mendapat akses yang cukup untuk pelayanan.
“Jadi di sinilah kita bertemu tentang kegiatan ilmiah untuk kita merefresh kembali dari berbagai aspek. Mudah mudahan ini akan menjadi lebih baik, baik untuk dokternya, pemilik masalah kesehatan, pemerintah, otoritas yang memberikan pembiayaan terhadap BPJS maupun kebutuhan masyarakat lainnya. Mudah mudahan setiap tahun bisa terus diadakan kegiatan seperti ini, bahkan kalau bisa setahun sampai dua kali pertemuan sehingga teman teman sejawat yang tidak bisa hadir saat ini bisa hadir di pertemuan selanjutnya karena memang pertemuan sekarang dibatasi kuotanya,” katanya.
Tak hanya itu, memasuki era Industri 4.0, menurut Dr. Geoseffi seharusnya dunia kedokteran sudah heboh dengan genomik, pemetaan genetik, robotik, dan berbagai kemajuan ilmu kedokteran yang modern dan sebagainya, itu tidak muncul. Yang ada hanyalah kesulitan pembiayaan, sengketa diagnostik dimana para dokter membuat suatu diagnosis yang menatalaksanai penyakit ataupun penanganan penyakit tertentu tidak cukup biaya, klaim yang tidak bisa diterima maupun pembayaran yang terlambat.
“Jadi masalah masalah itu yang meledak di era Industri 4.0 di kesehatan. Padahal, di luar negeri sendiri sudah jauh melampaui itu semua. Sedangkan kita, masih bingung terkait ketersediaan obat, ketersediaan dana dan sebagainya. Yaa, kami mengharapkan dokter dokter bisa tetap amanah, profesional dan sejahtera, termasuk kepada pemegang kebijakan dalam hal ini pemerintah, kami berharap ada dukungan. Kami tentu ingin membantu pemerintah, tetapi kami juga ingin diikutsertakan dalam membuat keputusan sehingga nanti apa yang menjadi keputusan pemerintah itu ada kesinambungan atau tidak ada jeda antara di lapangan dengan aturan aturan yang bertolak belakang,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here