????????????????????????????????????
H. Mahfud Saripudin merupakan sosok yang tidak asing bagi warga Kecamatan Parungpanjang, khususnya masyarakat di Desa Dago. Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Kabupaten Bogor tersebut pernah menjabat sebagai Kepala Desa Dago selama dua periode. Kiprahnya dalam menjaga Gunung Dago di Desa tersebut tidak usah diragukan. Dia bahkan pernah berselisih dengan Pabrik Semen besar yang menerima material dari Gunung yang ditambang secara ilegal.
“Kalau bukan kita yang menjaga mau siapa lagi. Kalau saya tidak berkeras waktu itu, mungkin Gunung Dago sudah rata,” ujarnya, di sela perbincangan dengan Majalah Bogor In, di Akhir September lalu.

Bukan perkara mudah bagi Mahfud untuk menghentikan tambang ilegal di Desanya. Keterlibatan tokoh Desa dan masyarakat asli membuatnya serba salah untuk melarang kegiatan yang merusak lingkungan itu. Apalagi, ada sebagian yang terlibat di pertambangan merupakan pendukungnya saat Pemilihan Kepala Desa waktu itu.
Bermodal rasa cinta terhadap tanah kelahirannya, Mahfud mencari cara yang paling soft untuk menghindari gesekan di tengah kehidupan masyakat. “Intinya kita ingin menyadarkan masyarakat bahwa Gunung Dago ini meruapakan anugerah dari Allah yang harus kita jaga untuk anak cucu kita,” katanya.
Mahfud lalu mendatangi perusahaan yang menerima material dari hasil tambang tersebut. Menggunakan kewenangannya sebagai kepala Desa, ia mengancam akan memperkarakan perusahaan tersebut jika tetap membeli material tambang dari Gunung tersebut. “Pertambangan tersebut tidak ada izinnya,” kata dia kepada pihak perusahaan.
Atas usahanya itu, perusahaan menghentikan pembelian material tambang dari Gunung Dago. Dengan demikian, otomatis kegiatan pertambangan berhenti beroperasi karena tidak ada lagi pembeli. Gunung Dago pun terselamatkan dari kerusakan.
Mahfud tidak hanya menyelamatkan Gunung Dago dari kegiatan tambang. Dengan modal semangat dan finansial seadanya, ia kemudian bercita-cita menjadikan Gunung tersebut sebagai objek wisata alam yang berdampak ekonomi bagi warga sekitar. Modalnya cukup besar, dan ia membutuhkan waktu yang tidak sebentar mengubah citra Gunung yang angker tersebut menjadi indah dan layak dikunjungi.
Bersama LMDH Mahfud mengajukan kerja sama dengan Perhutani untuk mengelola gunung tersebut. Dengan label Panorama Gunung Dago, Mahfud ingin menjadikan Dago sebagai destinasi wisata baru yang menyajikan wisata dan edukasi.
Di lahan seluas kurang lebih 20 hektare tersebut, Mahfud telah membangun area camping ground, dan Kampung Adat yang menyajikan bangunan dan perkakas Sunda, Banten dan Betawi di zaman dulu. Sejumlah spot selfie dan fasilitas pendukung lainnya memanjakan pengunjung yang berwisata di gunung tersebut.
Mahfud juga membangun kavling pertanian yang ditujukan untuk memasyarakatkan usaha tani di kalangan pelajar. “Konsepnya bertani Asik, singkatan dari Asli,  Segar, Indah dan Kreatif,” katanya.
Pengunjung nantinya akan diberikan kesempatan menanam komoditas pertanian di kavling yang telah disediakan. Saat datang kembali, pengunjung bisa memanen langsung tanaman mereka.Dengan kegiatan pertanian Asik ini, Mahfud ingin menumbuhkan minat pengunjung untuk usaha di bidang pertanian. “Kita harus sadar bahwa negara kita kan negara agraris, jadi usaha pertanian menjadi bagian dari kegiatan perekonomian kita,” tutupnya.
Reporter: Rama
Editor: Robby Firliandoko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here