Minuman merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pada saat dahaga mulai terasa haus memang menikmati minuman terasa sangat nikmat. Berbagai jenis minuman memang bisa dijumpai dengan lebih mudah mulai dari minuman rasa manis, asam dan sebagainya, termasuk minuman kemasan botol, gelas atau cup juga sangat beragam.
Berbicara mengenai minuman kemasan dan sedotan plastik sekali pakai, kini jenis minuman ini tengah digandrungi banyak kalangan.
Kenikmatan rasa serta teknik pengemasannya yang praktis dan tercantum gambar atau tulisan unik membuat minuman ini semakin popular. Bahkan peminatnya pun terbilang sangat tinggi.
Saat ini, perkembangan bisnis usaha minuman kemasan dan sedotan plastik sekali pakai di berbagai wilayah khususnya di Kota Bogor begitu pesat. Tidak hanya melayani konsumen di tempat atau di gerai maupun toko, para pelaku bisnis ini kini sudah merambah pemasarannya melalui daring.
Menurut pantauan Majalah Bogor In, ada lebih dari 80 Gerai yang menyajikan Kopi atau Susu atau Teh atau minuman rasa lainnya yang memanfaatkan gelas plastik sebagai kemasan dan sedotan plastik. Bahkan, beberapa merek ternama yang sudah dikenal secara nasional juga hadir di Kota Hujan. Untuk dapat mengetahui prakiraan konsumsi gelas dan sedotan plastik, Majalah Bogor In melakukan survey dan wawancara dengan tiga kedai kopi yang berbeda. Kedai pertama yang berlokasi di Tanah Baru dapat menjual 35 gelas per hari dan bisa mencapai 75 gelas pada saat ramai. Lalu, kedai kedua yang berlokasi di Tajur, dalam sehari dapat menjual antara 35 hingga 100 gelas. Dan ada pula, Kedai yang berlokasi di daerah Ciheleut yang dapat menjual antara 70-80 gelas per hari.
Dari jumlah kedai yang banyak dan sampel tersebut, bisa dibayangkan, berapa jumlah gelas dan sedotan plastik yang berpotensi menjadi sampah yang sulit terurai di Kota yang sudah memiliki Perda tentang Pengurangan Kantung Plastik dalam sehari, seminggu, sebulan bahkan setahun?
Menyikapi perkembangnya minuman kemasan cup yang sudah menjamur diberbagai sudut kota terutama menggunakan kemasan plastik, menurut Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, diimbau para pelaku bisnis bisa lebih memperhatikan keamanan dan kesehatan dari bahan makanan yang diolah dan kepada konsumen agar peduli kepada lingkungan serta tidak membuang sampah secara sembarangan.
Meskipun secara spesifik menyebut kemasan yang berbahan dasar plastik ini tidak dilarang atau dibatasi penggunaannya, namun diharapkan masyarakat sebagai konsumen dan pengusaha sebagai produsen bisa menyikapinya dengan bijak.
Mengingat penggunaan plastik untuk berbagai kebutuhan, saat ini sudah di tingkat yang cukup menghawatirkan. Selain plastik membutuhkan waktu yang lama untuk diurai kembali, di satu sisi yang lain ada dugaan dapat berdampak pada kesehatan. Termasuk dampak pada pencemaran lingkungan.
“Oleh karena itu Kota Bogor terus mengampanyekan pengurangan penggunaan plastik untuk kebutuhan kantong belanja. Dan upaya pemerintah dalam mengampanyekan hal tersebut akan lebih ke imbauan kepada para pengusaha dan masyarakat sehingga semua paham terkait hal ini,” tegas Dedie.
Pemanfaatan gelas dan sedotan plastik sekali pakai sebagai pada minuman rasa seperti kopi, susu, teh dan yang lainnya menarik perhatian banyak pihak, salah satunya Praktisi Komunikasi Perubahan Iklim Dr. Emilia Bassar yang menyatakan bahwa sebaiknya tidak menggunakan gelas plastik dan atau sedotan plastik untuk menyajikan minuman kopi, teh, susu, dan lainnya, karena selain merusak lingkungan akibat adanya sampah gelas dan sedotan plastik, hal tersebut juga mengganggu kesehatan.
“Adapun dampak negatif menggunakan gelas plastik untuk minuman panas, apalagi dilakukan berulang-ulang dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh dan memicu kanker, selama minuman bisa langsung diminum dari gelas, maka tidak perlu sedotan plastik. Sedotan plastik dapat digunakan utk minuman tertentu, dan membantu orang yang sakit agar dapat minum dengan lancar,  selain itu sampah gelas dan sedotan plastik dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, membunuh biota laut secara perlahan, dan mengganggu kesehatan manusia,” kata Dr. Emilia.
Praktisi Komunikasi Perubahan Iklim yang juga Founder dan CEO Center for Public Relations Outreach and Communication (CPROCOM) ini juga menilai bahwa untuk menyelesaikan masalah ini perlu ada kerja sama yang baik antara pemerintah, pengusaha dan pegiat lingkungan dan kesehatan.
“Harus ada edukasi dari pemerintah dan pegiat lingkungan dan kesehatan yang didukung oleh perusahaan akan bahaya dampak kemasan plastik (gelas dan sedotan) bagi lingkungan dan kesehatan,” tambahnya.
Dr. Emilia juga manyampaikan bahwa harus ada regulasi yang tegas dari Pemerintah untuk mengatur penggunaan plastik sekali pakai. Perlu ada kolaborasi pemerintah, perusahaan dan pegiat lingkungan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai, terutama gelas dan sedotan plastik.
Selain itu, Dr. Emilia juga menyampaikan langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat agar tetap bisa menikmati minuman rasa namun aman untuk lingkungan yakni gunakan gelas nonplastik, pelanggan diinformasikan, disosialisakan dan diberikan pengumuman bahwa kedai kopi tidak menyediakan sedotan plastik sekali pakai, kecuali untuk minuman tertentu yang memang butuh adanya sedotan plastik. “Kalau pun ada pelanggan yang pesan minuman untuk dibawa pulang (take away) dan minuman ‘terpaksa’ haru dikemas dengan botol plastik, usul saya, di gelas plastik perlu ditulis tentang bawa botol minuman sendiri utk keselamatan bumi, kalau mau lebih keras, bisa dengan tulisan penggunaan gelas plastik dapat merusak lingkungan dan mengganggu kesehatan dan pelanggan dikenakan biaya gelas plastik cukup mahal bila tidak bawa gelas atau botol minuman sendiri,” tutup Dr. Emilia.
Reporter:
M. Taufik Hidayat
Hadrina Mifta
Editor: Robby Firliandoko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here