SLB atau sekolah luar biasa diperuntukkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti tunanetra (gangguan penglihatan), tunawicara (gangguan pendengaran), tunagrahita (gangguan kecerdasan), tunadaksa (gangguan fisik), dan tunalaras (kenakalan anak-anak).
Di dalam sekolah itu ada pula guru-guru luar biasa dengan hati yang sungguh mulia. Mereka berani mengambil amanah besar yang tak semua orang mau melakukannya. Mereka bekerja setulus hati walaupun tak banyak orang yang memujinya. Mereka mengajarkan kepada anak-anak itu tentang cara menjalani kehidupan yang tak banyak berpihak.
Menjadi guru SLB tentulah sangat istimewa. Saat semua orang enggan dan berpangku tangan, justru mereka dengan semangat mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi. Mereka mengabdi dengan hati bukan hanya demi gaji.
12 tahun berjalan menjadi guru sukarela awalnya bukan pilihan Hj. Nippy Infante Carimea Kesumawide. Seorang ibu rumah tangga yang aktif menjadi pengajar sukarela di SLB. Namun hasrat untuk berbagi kepada sesamanya telah mendorong wanita 47 tahun ini terjun langsung disela-sela waktu luang mengurus keluarga.
Sosok Nippy bukanlah siapa-siapa, bukan pejabat atau tokoh terkenal lainnya. Dia mengajar anak-anak SLB dengan tulus tanpa imbalan materi. Bahkan untuk hal-hal yang dirasa diperlukan sekolah, ia juga tak segan-segan mengusahakan.
Ibu yang dikaruniai dua anak ini, mulai bergabung sebagai volunteer di SLB C Dharma Wanita sejak 2007. Awalnya lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Katholik Parahiyangan Bandung ini berencana mencari kegiatan disela waktu luangnya. Meski tanpa bekal ilmu pendidikan luar biasa, pertama kali datang Nippy langsung menawarkan diri untuk mengajar ketrampilan, tanpa biaya apapun.
Gayung pun bersambut pihak sekolah menyepakati dan menerima. Sebelum terjun ke anak-anak, selama 3 bulan Nippy membagikan ilmunya kepada para guru. Jenis keterampilan yang dipilihnya adalah sulam pita. Tujuannya agar para guru itulah yang kemudian mengajarkan kepada anak-anak.
Kemudian setelah 3 bulan berjalan ia mulai mengenal dan jatuh cinta pada anak-anak. Sejak saat itu setiap selasa dan jumat Nippy mengajar keterampilan dan kesenian untuk murid-murid SLB. Atas dasar rasa senang itulah, tanpa terasa Nippy sudah menjalaninya selama 12 tahun.
Dengan segala aktivitasnya, Nippy mengaku menjalaninya dengan sendiri. Ia bergerak atas dasar rasa senang dan bebas. Tidak terikat pada satu lembaga atau komunitas tertentu. Ia bergerak bebas, mengalir mengikuti proses yang terus berlangsung. Dengan model aktivitas seperti ini, keluarganya pun sangat mendukung
Kehadiran Istri  Ir. H. Eppy Gustiawan ini cukup dirasakan manfaatnya oleh sekolah. Di SLB Dharma Wanita Nippy mengajarkan ketrampilan dan kesenian kepada anak-anak dari tingkat SMP dan SMA. Nippy pun mengucapkan kegagumannya kepada para guru guru di SLB karena menurutnya, mereka mau dan senang mengajar ABK dan handal dilapangan.
“Mudah mudahan para guru ini diberikan keistoqomahan. Termasuk untuk masyarakat pada umumnya semoga bisa paham dan ramah terhadap kehadiran ABK khususnya pada orang tua dan lingkungannya. Mungkin mereka berbeda tetapi bukan untuk diasingkan. Jangan dianggap aneh karena sebenarnya mereka sama dengan anak anak pada umumnya, bahkan mereka memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki pada anak anak lainnya,” katanya.
Reporter : M. Taufik Hidayat
Editor: Robby Firliandoko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here