Sebanyak 800 lulusan IPB University diwisuda pada Rabu (11/12) bertempat di Gedung Grha Widya Wisuda (GWW) Kampus IPB Dramaga, Bogor. Seremonial wisuda dibuka secara langsung oleh Rektor IPB University Prof Dr Arif Satria.

Wisuda Tahap III Tahun Akademik 2019/2020 ini mencakup program Pendidikan Sarjana, Pendidikan Profesi Dokter Hewan, Magister dan Doktor. Data yang ada, tercatat 512 orang lulusan progam Sarjana, 30 orang lulusan program Pendidikan Profesi Dokter Hewan, 223 orang lulusan program Magister, dan 35 lulusan program Doktor mengikuti wisuda tahap ini. Kini IPB University telah memiliki 161.798 alumni yang tersebar di penjuru Indonesia dan dunia.

Dalam sambutannya, Rektor IPB University mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan dan berharap kepada para lulusan dapat mengharumkan nama IPB University setelah lulus. Ia pun juga berpesan kepada para lulusan supaya terus bercita-cita setinggi mungkin dengan tetap mengingat pengorbanan kedua orangtua.

Dalam kesempatan ini Rektor IPB University membekali para lulusan tentang skill yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan-tantangan masa depan di dunia kerja.

Prof Arif Satria mengatakan, semangat integritas, inovasi dan inspirasi menjadi kunci sukses IPB University hari ini dan di masa depan. Menurutnya, integritas menjadi dasar dari piramida kunci kesuksesan saat ini. Integritas juga mencerminkan keteguhan dan konsistensi IPB University dalam mengemban nilai-nilai tri dharma perguruan tinggi.

“Semangat integritas juga menjadi kunci dalam kolaborasi, kolaborasi akan berjalan baik apabila kedua belah pihak memiliki integritas yang baik,” ungkapnya.

Prof Arif Satria juga menyampaikan tentang arah perubahan di masa mendatang. Sedikitnya ada lima arah perubahan yang disampaikan, yaitu perubahan teknologi, perubahan pekerjaan dan profesi, perubahan peta kompetisi, perubahan perilaku dan gaya hidup, serta perubahan skill baru.

Dosen Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University ini menyampaikan perubahan teknologi telah mendorong perilaku resource
control menjadi resource sharing.

“Konsep berbagi resource
memungkinkan kita untuk dapat menggunakan teknologi canggih tanpa
harus membelinya. Sehingga perusahaan di masa depan hanya perlu
memiliki manajemen, tenaga kerja dan sistem informasi,” paparnya.

Dengan adanya perubahan teknologi ini, IPB University telah berhasil menciptakan inovasi-inovasi teknologi yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Inovasi tersebut diantaranya adalah Nusantara
ARFI: AI untuk mengidentifikasi species ikan dan karang, AURORA: Autonomous Robot Pemantau Kelapa Sawit, Ad-
Toam: pendeteksi kehalalan makanan dan minuman, Madsaz
Baby Cry Translator: Penerjemah Tangis Bayi, Smart
Detection for Quality Fruits: mendeteki tingkat kematangan buah dan SWARM-SHIP:
Rancang Bangun Kapal Penyergap Musuh Autonomous.

Berbeda dengan perubahan teknologi, perubahan pekerjaan dan profesi di masa mendatang justru akan didominasi sistem robotik dan sejumlah pekerjaan diproyeksikan akan hilang. Namun demikian, Rektor IPB University menyampaikan, perubahan pekerjaan dan profesi tersebut dapat diantisipasi dengan perubahan skill para lulusan.

“Berdasarkan
penelitian, ada tiga skill teratas yang akan dibutuhkan di masa depan yaitu complex problem solving, critical thinking dan creativity. Oleh karena itu, IPB University menerapkan Program Pendidikan IPB 4.0,” jelas Rektor IPB University.

Program Pendidikan IPB 4.0 dirancang untuk membekali peserta didik dengan skills set yang akan memperkuat talent sehingga
lulusannya lincah, tangguh dan adaptif dangan perubahan sebagai
generasi tomorrow people. Tujuan utama dari penerapan pendidikan IPB
4.0 adalah agar para lulusan IPB menjadi powerful agile learner.

Rektor IPB University juga menyoroti perubahan gaya hidup dan perilaku milenial saat ini. “Kebutuhan primer milenial saat ini bukan lagi makan, tempat tinggal maupun kebutuhan primer zaman dahulu, tetapi kebutuhan primer para milenial sekarang ini adalah baterai HP dan koneksi internet,” ungkapnya.

Penelitian terbaru IDN Research
Institute menunjukkan bahwa 79% milenial membuka handphonenya
satu menit setelah bangun tidur. Tidak hanya itu, orientasi para milenial saat ini bukan lagi menjadi pegawai. Para milenial justru lebih terobsesi dengan merintis usaha bisnisnya.

“Jika dahulu orang
banyak bercita-cita menjadi PNS, karyawan, dan pekerja, tren saat ini
justru menunjukkan 69.1% millenials ingin menjadi CEO perusahaan,” tutur Prof Arif.

Perubahan perilaku dan gaya hidup ini berimplikasi pada perubahan peta kompetisi dunia bisnis. Melihat perubahan ini, Rektor IPB University menyampaikan perubahan peta kompetisi semakin tidak jelas, kita tidak
tau lagi siapa saingan kita di masa depan.

“Oleh karena itu, perubahan peta kompetisi ini hanya bisa
dihadapi dengan kreativitas dan imaginasi untuk menemukan masa
depan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here